PAPAN
TULIS
S
|
ulit
bagiku untuk menghapus tulisan yang ada di papan tulis kecil ini. Sejak tadi
aku hanya menatapnya dan sesekali tertawa sendiri melihat isinya. Aku ingin
menghapusnya, namun rasanya seperti tak menghargai orang yang telah membuatnya
menjadi sebuah karya. Walaupun menurutku benda ini lebih mirip dengan
coret-coretan anak SD yang sedang belajar menulis. meskipun begitu, aku tetap
menyukainya karena di dalamnya dia menulis semua hal yang berhubungan dengan
diriku. Satu kalimat yang membuatku ragu untuk menghapus semua tulisan ini.
“Aku mulai menyukai menulis di
papan tulis, tetapi tulisanku hanya boleh dilihat oleh sulis”
Sudah
sejam lebih aku menempelkan pipiku di buku tulis ini. Entah apa yang membuatku
begini. Yang jelas aku benar-benar tidak tahu harus menulis apa. Mungkin efek
dari kamarku yang gelap dan panas ini jadi aku tidak konsentrasi. Aku membuka
kalender di ponselku, ternyata hari ini sudah tanggal 7 Februari. Oh tidak,
kenapa sebulan ini aku menyepelekannya. Seminggu lagi berarti aku harus sudah
punya cerpen untuk Sulis. Ya sulis adalah penyebab yang membuat aku bingung
harus menulis apa sekarang ini, dia menantangku untuk membuat cerpen yang
sangat menarik baginya. Dia sudah berjanji kalau aku berhasil membuat cerpen
yang menarik, dia akan memberikan sesuatu yang aku inginkan. Dan aku
menginginkan dia kembali menjadi pacarku. Menyebut namanya, aku jadi mengingat
pertama kali aku bertemu dengannya.
Dua
tahun yang lalu, saat aku ingin meninggalkan sekolah, mataku mendapati seorang
Sulis sedang menulis di papan tulis. Setiap pulang sekolah aku melihatnya
melakukan hal yang sama di dalam kelasnya. Aku sangat penasaran dengan apa yang
dia tulis, tak tanggung-tanggung dia menulis dua papan tulis penuh. saat itu yang aku pikirkan tentangnya adalah
dia gadis yang aneh. Pasalnya setiap kali dia selesai menulis, dia akan
menghapusnya. Kenapa dia tidak menulisnya di buku harian saja seperti
kebanyakan gadis lainnya. Namun, setelah berbulan-bulan aku mencoba mendekatkan
diri dengan Sulis atas dasar rasa penasaranku, akhirnya dia menerimaku. awalnya
dia selalu bilang “Alvan, tolong berhenti deketin aku. Ga ada gunanya karena
aku ga akan terbuka sama kamu. Ternyata dia adalah gadis yang asik walaupun
tertutup, dan dia juga sangat pintar
serta jago nulis. Setahun kemudian, aku menjalin kasih dengannya. Semuanya
terlihat begitu indah sebelum pada akhirnya Sulis meminta untuk memutuskan
hubungan. “kita udah pacaran 8 bulan, tapi ga ada gunanya juga kan Van? Kita
harus biasa-biasa aja mulai sekarang” kata itu terdengar ditelingaku saat aku
sedang menulis sesuatu tentangnya. Saat itu aku hanya terdiam bisu, sampai pada
akhirnya Sulis pergi meninggalkanku sendirian diruangan kelasnya yang sepi, dan
meninggalkan pedih, hingga terlihat buram semuanya.
“Van
bangun! Pindah ke kasur sana. Nanti bukunya kena air liur! Kamu kan jorok kalo
tidur” Ya ampun ternyata aku sampai tertidur saat memikirkannya. Untung saja
kakakku membangunkan aku, kalau tidak, buku milik Sulis ini akan basah tak
karuan. Aku harus menyelesaikan cerpen ini sebelum minggu depan.
Hari
ini tepat tanggal 14 Februari, lebih tepatnya hari Valentine. Aku akan mengutarakan
kembali rasa aku kepada Sulis. Aku yakin Sulis akan menerima aku kembali karena
aku sudah berhasil membuat
cerpen yang ia inginkan. Aku sudah duduk di bangku taman dekat rumahnya. Kulihat
dari kejauhan sepertinya itu Sulis. Ya benar sekali tebakanku. Itu Sulis. Dia membawa
sebuah kotak sedang. “Hai” sapaku. “ya. Maaf telat” ia duduk di sampingku. “hmm
lis, nih cerpen yang aku buat dari tantangan kamu” “judulnya Papan Tulis?
Isinya tentang apa?” Tanyanya. “iya, itu tentang aku sama kamu” aku menjawabnya
dengan semangat. Oke ini waktunya aku mengutarakan perasaan aku. Aku mengambil
nafas sementara sulis sedang membaca cerpenku. “Sulis, mau ga jadi pacar aku lagi?” Sulis hanya terdiam beberapa detik, yang
bagiku itu adalah waktu paling lama. “Maaf Alvan, aku ga bisa pacaran. Kamu tau
kan jadi penulis terkenal itu lebih penting bagi aku ketimbang dengan pacaran?
Maaf aku ga bisa lama-lama. Ini hadiah dari tantangan kamu, ini yang kamu
inginin. Bye” Sulis pergi meninggalkanku sendirian ditaman yang ramai dengan orang
asing, kotak hadiah dan meninggalkan pedih. Lagi.
Aku membuka hadiahnya, kulihat ternyata papan tulis putih
kecil milikku. Pasti dia menyukainya sampai ia menyimpannya. Namun tetap saja
aku tak bisa memilikinya. Seolah papan tulis ini menjadi saksi yang menandakan
akhir dari sebuah ceritaku.
