CERPEN : PAPAN TULIS

PAPAN TULIS
Oleh : Nuraisyah


(image from Google Images)


S
ulit bagiku untuk menghapus tulisan yang ada di papan tulis kecil ini. Sejak tadi aku hanya menatapnya dan sesekali tertawa sendiri melihat isinya. Aku ingin menghapusnya, namun rasanya seperti tak menghargai orang yang telah membuatnya menjadi sebuah karya. Walaupun menurutku benda ini lebih mirip dengan coret-coretan anak SD yang sedang belajar menulis. meskipun begitu, aku tetap menyukainya karena di dalamnya dia menulis semua hal yang berhubungan dengan diriku. Satu kalimat yang membuatku ragu untuk menghapus semua tulisan ini.
“Aku mulai menyukai menulis di papan tulis, tetapi tulisanku hanya boleh dilihat oleh sulis”

Sudah sejam lebih aku menempelkan pipiku di buku tulis ini. Entah apa yang membuatku begini. Yang jelas aku benar-benar tidak tahu harus menulis apa. Mungkin efek dari kamarku yang gelap dan panas ini jadi aku tidak konsentrasi. Aku membuka kalender di ponselku, ternyata hari ini sudah tanggal 7 Februari. Oh tidak, kenapa sebulan ini aku menyepelekannya. Seminggu lagi berarti aku harus sudah punya cerpen untuk Sulis. Ya sulis adalah penyebab yang membuat aku bingung harus menulis apa sekarang ini, dia menantangku untuk membuat cerpen yang sangat menarik baginya. Dia sudah berjanji kalau aku berhasil membuat cerpen yang menarik, dia akan memberikan sesuatu yang aku inginkan. Dan aku menginginkan dia kembali menjadi pacarku. Menyebut namanya, aku jadi mengingat pertama kali aku bertemu dengannya.
Dua tahun yang lalu, saat aku ingin meninggalkan sekolah, mataku mendapati seorang Sulis sedang menulis di papan tulis. Setiap pulang sekolah aku melihatnya melakukan hal yang sama di dalam kelasnya. Aku sangat penasaran dengan apa yang dia tulis, tak tanggung-tanggung dia menulis dua papan tulis penuh.  saat itu yang aku pikirkan tentangnya adalah dia gadis yang aneh. Pasalnya setiap kali dia selesai menulis, dia akan menghapusnya. Kenapa dia tidak menulisnya di buku harian saja seperti kebanyakan gadis lainnya. Namun, setelah berbulan-bulan aku mencoba mendekatkan diri dengan Sulis atas dasar rasa penasaranku, akhirnya dia menerimaku. awalnya dia selalu bilang “Alvan, tolong berhenti deketin aku. Ga ada gunanya karena aku ga akan terbuka sama kamu. Ternyata dia adalah gadis yang asik walaupun tertutup, dan  dia juga sangat pintar serta jago nulis. Setahun kemudian, aku menjalin kasih dengannya. Semuanya terlihat begitu indah sebelum pada akhirnya Sulis meminta untuk memutuskan hubungan. “kita udah pacaran 8 bulan, tapi ga ada gunanya juga kan Van? Kita harus biasa-biasa aja mulai sekarang” kata itu terdengar ditelingaku saat aku sedang menulis sesuatu tentangnya. Saat itu aku hanya terdiam bisu, sampai pada akhirnya Sulis pergi meninggalkanku sendirian diruangan kelasnya yang sepi, dan meninggalkan pedih, hingga terlihat buram semuanya.
“Van bangun! Pindah ke kasur sana. Nanti bukunya kena air liur! Kamu kan jorok kalo tidur” Ya ampun ternyata aku sampai tertidur saat memikirkannya. Untung saja kakakku membangunkan aku, kalau tidak, buku milik Sulis ini akan basah tak karuan. Aku harus menyelesaikan cerpen ini sebelum minggu depan.

Hari ini tepat tanggal 14 Februari, lebih tepatnya hari Valentine. Aku akan mengutarakan kembali rasa aku kepada Sulis. Aku yakin Sulis akan menerima aku kembali karena aku sudah berhasil membuat cerpen yang ia inginkan. Aku sudah duduk di bangku taman dekat rumahnya. Kulihat dari kejauhan sepertinya itu Sulis. Ya benar sekali tebakanku. Itu Sulis. Dia membawa sebuah kotak sedang. “Hai” sapaku. “ya. Maaf telat” ia duduk di sampingku. “hmm lis, nih cerpen yang aku buat dari tantangan kamu” “judulnya Papan Tulis? Isinya tentang apa?” Tanyanya. “iya, itu tentang aku sama kamu” aku menjawabnya dengan semangat. Oke ini waktunya aku mengutarakan perasaan aku. Aku mengambil nafas sementara sulis sedang membaca cerpenku.  “Sulis, mau ga jadi pacar aku lagi?”   Sulis hanya terdiam beberapa detik, yang bagiku itu adalah waktu paling lama. “Maaf Alvan, aku ga bisa pacaran. Kamu tau kan jadi penulis terkenal itu lebih penting bagi aku ketimbang dengan pacaran? Maaf aku ga bisa lama-lama. Ini hadiah dari tantangan kamu, ini yang kamu inginin. Bye” Sulis pergi meninggalkanku sendirian ditaman yang ramai dengan orang asing, kotak hadiah dan meninggalkan pedih. Lagi.
Aku membuka hadiahnya, kulihat ternyata papan tulis putih kecil milikku. Pasti dia menyukainya sampai ia menyimpannya. Namun tetap saja aku tak bisa memilikinya. Seolah papan tulis ini menjadi saksi yang menandakan akhir dari sebuah ceritaku.

Like us on Facebook