CERPEN : Tebak-tebakan Cinta


Oleh : Nuraisyah
Ketika aku hendak berangkat kesekolah, seringkali aku melihat seorang gadis nan manis berjalan melewati depan rumahku. Tidak ada yang aneh dengannya, ia berjalan dengan pandangan matanya selalu mengarah ke arahku. Bukan hanya melihat ke arahku saja, dia juga menunjukan senyuman manisnya. kejadian ini terjadi sejak beberapa hari yang lalu. aku bertanya-tanya “siapa sebenarnya gadis itu? Seperti tidak asing lagi bagiku”.
Ketika disekolah, aku melihatnya di ujung lorong sekolah. Tetapi, ada yang aneh kali ini. Gadis itu tersenyum kepadaku dalam jarak yang jauh, namun dalam senyumnya itu seolah-olah dia ingin aku untuk mendekatinya. Aku mencoba cari tahu siapa dia yang sebenarnya, dan akhirnya aku menemukan informasi tentangnya. Ternyata, dia adalah murid baru pindahan dari Jakarta. Dan kelasnya berada tepat disebelah kelasku. Sejenak aku berfikir mengapa aku tidak pernah bertemu dengannya kalau memang kelasnya berada di sebelah kelasku? Tapi aku fikir lagi mungkin dia jarang keluar kelasnya. Ah biarkanlah aku sudah tidak penasaran lagi setelah tau tentangnya. Namun, ada kejadian aneh lagi yang membuat aku penasaran dengan murid baru itu. saat aku berjalan pulang ke rumah, aku merasa ada yang mengikutiku dari belakang. Aku sengaja tidak menengok kebelakang, aku hanya menyuruh temanku yang berada tepat disebelahku untuk menengok kebelakang. Aku mempunyai firasat kalau yang mengikutiku adalah murid baru itu. Aku lupa untuk menanyakan siapa nama murid baru itu ke teman kelasnya yang tadi pagi aku Tanya. ternyata benar saja yang mengikutiku adalah murid baru itu dan temanku bilang gadis itu melihatku penuh dengan tatapan. Kejadian itu membuat aku selalu memikirkannya sebelum aku hendak tidur. “apakah dia jatuh hati kepadaku? Ah tapi dia baru melihatku, mana mungkin juga dia jatuh hati dengan lelaki sepertiku?” kalimat itu yang selalu mengalir begitu saja saat aku memikirkannya.
Beberapa hari kemudian, aku menunggu dia lewat depan rumahku. Sebelum ia lewat, aku sudah berada tepat di depan pagar rumahku. Tak lama aku menunggunya ia sudah terlihat dari kejauahan dengan langkahnya yang kecil itu, aku sudah berancang-ancang untuk menanyakan semua yang aku ingin tanyakan padanya. Aku memandanginya dari kejauhan yang semakin mendekat, gadis yang memakai rok abu-abu dengan tas yang di selempangkan dibahunya, membuatnya semakin terlihat anggun. Gadis itu sekarang tepat 1 meter di depanku, lalu aku memberhentikan langkahnya. Gadis itu kaget setelah melihat aku tepat di depannya. Aku rasa ia terbingung dengan tindakan aku ini. Ia berusaha untukmelanjutkan jalannya lagi, namun aku tetap menghalanginya.
“eh eh sebentar aku mau nanya, wajah kamu seperti tidak asing bagi aku, dan kalau kita bertemu kamu selalu senyum kepada ku. Tapi ketika aku mau berbicara kamu langsung membuang mukamu. Sebenarnya kamu siapa?” tanyaku kepada gadis yang berkulit putih dan juga memakai kerudung putih itu. Dia menatapku dan sepertinya dia ingin menjawab pertanyaan dariku. “namaku gita, aku pindahan dari Jakarta, dulu aku pernah tingggal didaerah sini, ketika umurku 7 tahun aku pindah ke Jakarta dan aku ini sebenarnya..…” sebelum ia menyelesaikannya aku sudah memotong kalimatnya, karena aku melihat cucuran darah di hidungnya. “eh hidung kamu berdarah, sini aku bantu”. “hmm ga usah makasih ya, aku mau lewat, permisi” jawab gadis itu yang menolak jiwa penolongku.
Aku hanya terbingung mengapa dia tidak mau dibantu. Aku fikir mungkin karena aku dan dia bukan mukhrim. yaa mungkin saja. Tiba-tiba aku teringat yang ia ucapkan beberapa detik yang lalu. Identitasnya sama seperti teman kecilku yaitu Gita maharani. Teman terdekatku yang aku nantikan. Saat aku menginjak SMP dulu, aku diberitahukan oleh orang tuaku bahwa aku akan dijodohkan kelak dewasa nanti. Aku menyetujuinya karena memang hanya Gita teman yang paling bisa mengerti aku sejak kecil. Namun sejak usia 7 tahun ia pergi begitu saja tanpa pamit kepadaku. Maka dari itu aku berfikir kalau gadis itu adalah Gita maharani. Aku berniat untuk menanyakannya pulang sekolah nanti.
Bel pulang berbunyi dan aku menunggu gadis itu di depan kelasnya. Satu persatu murid dikelasnya keluar, namun aku tidak melihatnya sampai kelas itu kosong.“eh kamu lagi nungguin siapa?” tegur salah seorang murid yang ingin mengunci pintu kelasnya. “aku lagi nungguin yang namanya gita. Tapi ko dari tadi ngga kelihatan keluar ya? Apa udah pulang duluan ya?”. “ohh gita, tadi waktu jam pelajaran ke 2 dia jatuh pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Yang aku tau dia punya penyakit parah sejak dia masuk SMP”
Aku hanya terdiam dan sekarang aku tau jawabannya mengapa dia tadi pagi hidungnya berdarah. Setelah mengetahuinya aku berjalan keluar sekolah. Dan aku kaget sekali saat melihat seseorang yang berada di depan pagar sekolah. Aku mempunyai firasat buruk kali ini. “bu, lagi ngapain disini? Kenapa engga pernah kabarin ke rumah aku lagi bu?” sahutku kepada ibu-ibu yang ternyata adalah ibunya Gita maharani teman kecilku. “Naufal, ibu ada perlu sama kamu. Apa kamu sudah bertemu dengan gita? ibu kesini ingin bilang ke kamu, sebenarnya…” sepotong kalimat yang belum selesai sudah di hentikan oleh tangisannya. Firasatku semakin buruk.
“sebenarnya apa bu? Katakana saja bu yang sebenarnya.  Ya aku sudah ketemu gita sejak beberapa hari yang lalu, namun aku baru mengenalinya tadi pagi, karna wajahnya sangat berbeda ” ujarku kepada ibunya Gita.
“iyaa fal, sebenarnya Gita terkena leukimia sejak ia masuk SMP, dia pindah kesekolah ini karna dia ingin bersama kamu untuk terakhir kalinya. Jika kamu sudah bertemu dengannya, mungkin itu adalah terakhir kalinya kamu melihat gita fal.. maafin ibu” ibunya gita menjelaskan dengan tangisan kepadaku. 
Aku hanya terdiam, nafasku terasa sesak dan tetes demi tetes air mata mulai keluar dari mataku.
Aku menerima benda itu dan aku masih tidak percaya dengan semua ini. Sahabat yang selalu aku nantikan akhirnya datang, tetapi datang untuk pergi. Aku membuka kotak itu yang berisikan buku kecil tentang tebak-tebakan buatan tangannya sendiri. Dan surat itu, sangat menyayat hatiku.
“hai Naufal.. maaf aku langsung pergi gitu aja kalau bertemu kamu. Aku hanya ingin bermain tebak-tebakan sama kamu untuk terakhir kalinya. Naufal jika kamu rindu aku, kamu cukup tebak aku berada dimana. aku pasti berada ditempat yang kamu tebak J” Isi surat yang membuat air mataku tidak berhenti-henti.
Setelah hari-hari aku lewati tanpanya, aku menjalani hidup yang baru. Aku menyelesaikan sekolahku dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Jakarta. Namun, mengingat kata Jakarta, aku selalu mengingat akan dirinya. Setiap kali aku mengingatnya, aku selalu merasa ia berada di sampingku. Mungkin ini adalah makna dari surat yang ia tulis.

“Cinta sejati akan selalu ada di setiap tempat yang kita pikirkan dan kita inginkan”


END

Like us on Facebook