“Brakkkk…” Suara gebrakan meja terdengar dari
arah kelas IPS 3. Murid-murid yang sedang beristirahat di koridor depan kelas
IPS 3 langsung terkejut dan berusaha melihat ke sumber suara melalui
celah-celah jendela. Berusaha mengetahui siapa yang ada di dalam kelas.
Pasalnya kelas IPS 3 beberapa menit yang lalu masih kosong karena semua murid
IPS 3 sedang praktek shalat di masjid.
“eh eh ada apa ini ko rame banget?” Tanya Riko, ketua kelas ips 3.
“itu rik, di dalem ada Mutia sama Dandi. Tadi dandi ngebentak
mutia kenceng banget. Dia juga bawa pisau” setelah mendengar apa yang dikatakan
salah satu temannya, Riko langsung berusaha masuk kedalam kelas, namun usahanya
sia-sia karena pintu kelas dikunci dari dalam. Riko hanya mengkhawatirkan gadis
yang sekarang ada di dalam. Mungkin dia ketakutan.
“Kenapa kamu lebih memilih dia? Kenapa bukan aku? Karena dia lebih
terkenal? Aku juga bisa terkenal. Kenapa kamu selalu sama dia, buat aku
cemburu. Rasanya aku mau bunuh kamu tau gak?” terdengar lagi suara dandi dari
dalam kelas. membuat riko yang dari tadi berusaha mendobrak pintu semakin ingin
cepat-cepat menonjok mulutnya dandi. Sedangkan gadis putih dan tinggi yang
berada di dalam kelas hanya bisa diam tak bersuara dan menangis ketakutan.
Mutia tidak pernah takut apapun, tapi baru kali ini dia benar-benar ketakutan.
Mungkin setelah ini dia menyesal telah berteman dengan dandi.
Setelah beberapa menit riko mencoba mendobrak pintu, akhirnya
pintu tersebut bisa dikalahkan. Riko langsung menghampiri mereka berdua.
Untunglah mutia tidak kenapa-kenapa. Dia langsung berlari kebelakang riko.
“sekali lagi lo ganggu mutia, gue yang akan tusuk lo pake pisau yang lo bawa”
kata Riko sambil mengambil pisau yang dipegang dandi. dan dandi pun langsung di
bawa ke ruang guru oleh beberapa teman riko. Riko hanya berharap psikopat itu
tidak akan mengganggu mutia lagi.
Sebenarnya, Mutia
dan Dandi bersahabat sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga akhirnya mereka
berpisah saat Ibu Mutia menikah lagi dan mereka dipertemukan kembali saat masuk SMA.
Namun posisi Dandi tergantikan
oleh Riko yang sudah jelas adalah kakak tiri Mutia.
****
3 hari setelah kejadian itu, Mutia terlihat lebih murung dan tak
bersemangat lagi. Seperti halnya hari ini, biasanya mutia sangat senang sekolah
di hari senin karena senin merupakan awal belajar baginya tapi hari ini dia tak
bersemangat sama sekali. Riko, dan Herniko alias ayahnya riko sekaligus ayahnya
mutia sudah mencoba membangkitkan semangat mutia, namun tak semudah yang dibayangkan.
“riko, mutia udah
bangun belum? Ini hari senin loh nanti kalau kalian terlambat lagi ayah ga
tanggung jawab ya” Tanya Herniko dari lantai atas. “udah yah. Mutia lagi mandi”
kata riko sambil menyiapkan sarapan di meja makan. “ayah berangkat duluan ya
takut macet di jalan, jagain mutia ya riko” . “siap bos” sahut riko dengan
semangat.
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.45 namun mutia belum turun juga
ke bawah. Mengingat jarak rumah dan sekolah mereka yang berjauhan, riko
langsung masuk ke kamar mutia.
“mutia kamu belum bangun juga? Ayo bangun.. jangan bolos lagi”
kata riko sambil membuka selimut yang dipakai mutia. Mutia masih saja tidak mau
bangun dari posisi tidurnya, padahal dia sudah memakai seragam sekolah. “aku ga
mau sekolah. aku masih takut sama dandi” ujarnya dari balik bantal. “Takut
kenapa sih? Ada aku di sekolah. Kita sekelas juga dan aku ga bakal jauh dari
kamu. Jadi kamu harus sekolah sekarang juga. Ngerti?” kata riko dengan nada
yang lebih tinggi supaya mutia mau sekolah. Mutia bangkit dari posisinya, bukan
untuk bergegas ke sekolah tapi dia malah mengusir riko. “gak! Keluar dari kamar
aku sekarang! Aku ga mau dipaksa sekolah. Kamu ga usah sok ngejaga orang lain
kalau ujung-ujungnya bakal jadi petaka. Kamu masih inget kejadian 3 tahun lalu
kan? Yang menimpa ibu aku?” kata mutia . “dan satu lagi, inget kamu itu cuma
saudara tiri aku, bukan ibu atau ayah kandung aku!” tambah mutia sambil menutup
pintu dengan kencang. Sedangkan yang di usir hanya terdiam di depan pintu,
merutuki dirinya sendiri. Ia tau jelas mengapa sikap mutia seperti itu. Semua itu
karena kesalahannya yang telah meninggalkan ibu kandungnya mutia yang cacat.
Kala itu pagi hari sangat cerah, Riko dan Ibu Mutia terlihat bahagia karena
ingin menemui orang yang mereka sayangi. Riko mendorong kursi roda ibu tirinya
itu menuju sekolahnya yang tak jauh dari rumah mereka. Mereka hampir sampai dan
tinggal menyebrangi jalan, tiba-tiba Riko berhenti dan berpaling kebelakang
untuk mengambil hadiah ulang tahun mutia, rupanya Riko baru sadar bahwa kado
untuk Mutia jatuh di jalan. Dengan cepat Riko bergegas mengambilnya. Hanya
selang beberapa detik, dari arah kanan terlihat truk yang oleng sedang melaju
kencang sehingga terjadilah kecelakaan yang menewaskan satu-satunya orang yang
paling berharga bagi mutia.
Tes.. tes..tes.. air mata riko pun mulai menetes.
“semua itu salah
aku mutia, tapi kalau bukan aku yang jaga kamu siapa lagi yang mau jaga kamu?
Sekeras apapun kamu larang aku, aku akan tetap jaga kamu mutia. aku akan
buktiin itu”
****
3 minggu berlalu kelakuan riko di sekolah lebih banyak diam dan
menyendiri. Teman-temannya pun merasa terheran mengapa ia menjadi dingin
seperti ini. Bahkan tio, sahabatnya riko saja tak di gubris ketika menanyakan
dia sedang kenapa. Bagi teman-teman riko ini kejadian yang langka.
“eh riko.. gue mau ngomong sama lo” panggil dandi dari meja makan
kantin yang tak jauh dari riko sekarang. Tetapi yang di panggil hanya diam dan
menonton pikirannya yang berada di mangkuk mie kesukaannya dan mutia.
“woy riko, dandi mau
ngomong sama lo” tio menepuk bahu riko. “eh apaan yo? Dandi ngompol sama gue?”
kata riko tak nyambung. “dandi mau ngomong sama lo woy” sekali lagi tio
menegaskan tepat di telinga riko. “oh ngomong sama gue. Hehe”
Riko menghampiri
dandi. “lo mau ngomong apa? Ga bawa pisau lagi kan?”
“tenang aja gue
ga bawa. Hmm.. gue mau minta maaf sama lo dan mutia atas kelakuan gue beberapa
minggu yang lalu. Sebagai permintaan maaf gue, gue ngundang lo di acara ulang
tahun gue yang ke 17 tahun. Cuma beberapa orang yang gue undang. Nih
undangannya” kata dandi sambil memberi undangan. Riko mengambilnya dari tangan
dandi dan meninggalkannya begitu saja tanpa mengeluarkan kata sedikitpun.
****
Saat makan malam, riko ingin sekali berbincang dengan mutia
seperti biasanya. Ayahnya sudah mengetahui permasalahan mereka berdua, namun
menurut ayahnya mereka cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah. Akhirnya riko
berani memulai pembicaraan walaupun mutia sedang asik melahap makan malamnya.
“mutia aku mau
ngomong sama kamu” kata riko sambil menaruh sendok makannya. Ia berhenti makan.
“aphaa mmm?”
jawabnya sambil mengunyah makanannya. “hey cantika mutia, habisin dulu makanan
yang di mulut baru kamu ngomong. Ngerti?” bentak ayahnya dengan logat yang
lembut. “maaf yah” kata mutia sambil berhenti makan.
“dandi undang
kita berdua buat dateng ke acara ulang tahunnya. Dia bilang itu sebagai
permintaan maafnya. Kalau kamu dateng aku juga dateng. Kamu mau dateng gak?”
“kapan?” Tanya mutia.
“di undangannya sih tercantum acaranya besok malem, di rumahnya dandi sendiri”.
“yaudah aku dateng besok. Lagian aku udah temenan sama dia udah lama juga” kata
mutia dengan ekspresi yang sepertinya terpaksa.
“anak ayah
ternyata pemaaf juga yaa.. berarti udah maafin riko juga dong pasti. Ya kan?”
Tanya ayah sambil mengelus rambut mutia yang panjang.
Mutia hanya
tersenyum tipis kepada ayahnya.
****
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Riko sudah siap ke acara
ualng tahun dandi. Ia mengenakan kemeja biru dengan jeans hitamnya. Tinggal
menunggu mutia yang masih berada di kamarnya.
“mutia cep…”
teriakan riko terhenti ketika melihat mutia yang menghampirinya dengan
mengenakan pakaian yang serasi dengannya, yaitu dress berwarna biru dan sepatu
tinggi berwarna hitam. Ditambah lagi tatanan rambut dan wajahnya yang terlihat
lebih cantik dari biasanya. Serasilah mereka berdua sebagai pasangan sejoli,
bukan sebagai kakak beradik.
“ehhmm riko, ayoo
aku udah siap berangkat” tegur mutia. “oh iya oke ayo berangkat”
Mereka berdua berangkat bersama kerumah dandi yang kebetulan tidak
terlalu jauh. Hanya 20 menit mereka sudah sampai di rumah dandi yang terlihat
dipenuhi undangannya. riko dan mutia langsung masuk kedalam, dandi menyambut
mereka dengan ramah sekali.
“hai bro..
ganteng banget lo hari ini.. mutia juga tambah cantik aja” sapa dandi yang
memakai jas anak muda.
Kali ini mutia
angkat bicara duluan “hmm.. dandi, maaf ya gue……” . “gue yang salah mutia. Gue
yang kadang-kadang suka kumat gitu ya lo tau kan mut gue kaya gimana?” kata
dandi memotong ucapan mutia. Sedangkan mutia hanya membalasnya dengan senyuman.
“kumat gimana?”
Tanya riko curiga. “ya kadang suka gitu ajah. hmm gue boleh ajak mutia
jalan-jalan sebentar ngelilingin istana gue ini ngga rik? Bentar aja ko” minta
dandi.
Riko melirik ke
arah mutia dan ia mengangguk sebagai tanda bahwa dia tidak apa-apa.
“ga lama ya dan,
nanti kalau kelamaan gue bisa digodain tante-tante lo” jawab riko dengan
sedikit ragu.
Dandi dan mutia berjalan-jalan
mengelilingi rumah dandi yang besar seperti istana tapi sayangnya hanya sedikit
yang menempati. Sedangkan riko hanya duduk di bangku paling pojok dekat pintu
balkon. Semakin lama dandi dan mutia semakin tak kasat mata oleh riko. Selalu
ada rasa khawatir setiap kali melihat mutia sedang bersama dandi.
“hmm dan, rumah
lo besar tapi ko sepi banget ya kalau lebih masuk ke dalemnya?” ucap mutia
memecahkan suasana yang sepi.
“iya bokap sama
nyokap gue diluar negeri. Mereka nitipin gue ke tante-tante gue, tapi ga ada
yang mau urusin gue. Ya akhirnya gue kaya gini deh” ucap Dandi.
“ohh gitu. Terus ini
senjatanya punya siapa? Ko banyak banget?” mutia menunjuk lemari pajang besar
di sebelah kanannya. “oh ini semua punya gue, oh iya lupa gue! sebentar gue mau
ambil senjata 17 gue” dandi berlari mengambil senjata di sudut ruangan. Ia
terlihat gembira sekali.
“nih liat, ini
senjata kebanggaan gue mut” kata dandi. “kenapa itu senjata kebanggaan lo dan?”
Dandi
membelakangi mutia “karena senjata ini akan gue pake pada saat usia gue 17
tahun” ucap dandi. “ma.. mak..sud lo?” Tanya mutia terbata-bata sambil berusaha
menjauhi dandi. Mutia mulai merasa ada yang tidak beres.
“iya gue akan
pake senjata ini untuk bunuh lo!” dandi berbalik badan dan mengarahkan
senjatanya kearah mutia. “lo ga serius kan dan? Lo.. lo lagi bercanda kan?”
mutia mulai ketakutan dan berusaha keluar dari ruangan itu. Dandi ternyata
belum berubah. Mutia sampai tidak mengenali lagi siapa itu Dandi, sifatnya
sangatlah berbeda dengan Dandi yang ia kenal dulu.
“ini semua karena
salah lo yang nolak perasaan gue, dan lo yang ngebuat gue dikenal sebagai
psikopat. Gue sakit hati sama lo. Lo tau gue cuma hidup sendiri, dan lo
ninggalin gue terus hidup bahagia di depan gue! Lebih baik lo ninggalin gue
selamanya. jadi gue ga akan ngeliat lo bahagia di depan gue. Gue mau lo mati
cantika mutia” dandi menyeringai.
“gue ga mau mati
konyol dandi, gue mohon jangan.. gue bakal lakuin apa aja asal lo jangan bunuh
gue. Gue minta maaf kalau ternyata gue ninggalin lo. Tapi gue ga bermaksud kaya
gitu. Buktinya kita masih bisa ngobrol barengkan? Kita juga satu sekolah, mana
mungkin gue ninggalin lo” ucap mutia spontan. Namun dandi tetap pada
pendiriannya. “lo telat bilang kaya gitu. Lo harus mati sekarang juga dan
kematian lo akan dikenal sebagai kecelakaan. Bukan sebagai pembunuhan. Hahaha”
Mutia hanya bisa menangis pasrah di depan sahabatnya yang berubah jadi malaikat
pencabut nyawanya. Mutia tidak percaya dengan apa yang terjadi. Andaikan dia
mau mendengarkan kata-kata riko, mungkin semua ini tidak akan dialaminya lagi.
“ada kata-kata
terakhir Cantika Mutia? 1….2….3….” Mutia hanya menutup telinganya dan pasrah.
“DOORRRR” suara senjata itu terdengar keras
sampai orang yang mendengarnyapun ketakutan. pelurunya persis mengenai dadanya.
Membuat darah segar mulai bercucuran di lantai, menandakan ada yang telah tertancap
benda tajam.
Mutia membuka
matanya dan terkejut melihat darah bercucuran di hadapannya bukanlah darahnya.
“riko…..” ia berlari dan memeluk riko.
“udah gue bilang
lo jangan ganggu mutia lagi atau senjata lo sendiri yang akan bunuh lo” riko
melempar pistol kearah dandi yang sudah bersimpahan darah.
“riko.. maafin
ak..” “shutttt.. udah kewajiban aku buat ngejaga kamu Cantika Mutia” mereka
berdua saling tersenyum dan saling memeluk dengan erat.
END


