CERPEN : JAGA AKU

oleh : Nuraisyah


“Brakkkk…” Suara gebrakan meja terdengar dari arah kelas IPS 3. Murid-murid yang sedang beristirahat di koridor depan kelas IPS 3 langsung terkejut dan berusaha melihat ke sumber suara melalui celah-celah jendela. Berusaha mengetahui siapa yang ada di dalam kelas. Pasalnya kelas IPS 3 beberapa menit yang lalu masih kosong karena semua murid IPS 3 sedang praktek shalat di masjid.
“eh eh ada apa ini ko rame banget?” Tanya Riko, ketua kelas ips 3.
“itu rik, di dalem ada Mutia sama Dandi. Tadi dandi ngebentak mutia kenceng banget. Dia juga bawa pisau” setelah mendengar apa yang dikatakan salah satu temannya, Riko langsung berusaha masuk kedalam kelas, namun usahanya sia-sia karena pintu kelas dikunci dari dalam. Riko hanya mengkhawatirkan gadis yang sekarang ada di dalam. Mungkin dia ketakutan.
“Kenapa kamu lebih memilih dia? Kenapa bukan aku? Karena dia lebih terkenal? Aku juga bisa terkenal. Kenapa kamu selalu sama dia, buat aku cemburu. Rasanya aku mau bunuh kamu tau gak?” terdengar lagi suara dandi dari dalam kelas. membuat riko yang dari tadi berusaha mendobrak pintu semakin ingin cepat-cepat menonjok mulutnya dandi. Sedangkan gadis putih dan tinggi yang berada di dalam kelas hanya bisa diam tak bersuara dan menangis ketakutan. Mutia tidak pernah takut apapun, tapi baru kali ini dia benar-benar ketakutan. Mungkin setelah ini dia menyesal telah berteman dengan dandi.
Setelah beberapa menit riko mencoba mendobrak pintu, akhirnya pintu tersebut bisa dikalahkan. Riko langsung menghampiri mereka berdua. Untunglah mutia tidak kenapa-kenapa. Dia langsung berlari kebelakang riko. “sekali lagi lo ganggu mutia, gue yang akan tusuk lo pake pisau yang lo bawa” kata Riko sambil mengambil pisau yang dipegang dandi. dan dandi pun langsung di bawa ke ruang guru oleh beberapa teman riko. Riko hanya berharap psikopat itu tidak akan mengganggu mutia lagi.
Sebenarnya, Mutia dan Dandi bersahabat sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga akhirnya mereka berpisah saat Ibu Mutia menikah lagi dan mereka dipertemukan kembali saat masuk SMA. Namun posisi Dandi tergantikan oleh Riko yang sudah jelas adalah kakak tiri Mutia.

****
3 hari setelah kejadian itu, Mutia terlihat lebih murung dan tak bersemangat lagi. Seperti halnya hari ini, biasanya mutia sangat senang sekolah di hari senin karena senin merupakan awal belajar baginya tapi hari ini dia tak bersemangat sama sekali. Riko, dan Herniko alias ayahnya riko sekaligus ayahnya mutia sudah mencoba membangkitkan semangat mutia, namun tak semudah yang dibayangkan.
“riko, mutia udah bangun belum? Ini hari senin loh nanti kalau kalian terlambat lagi ayah ga tanggung jawab ya” Tanya Herniko dari lantai atas. “udah yah. Mutia lagi mandi” kata riko sambil menyiapkan sarapan di meja makan. “ayah berangkat duluan ya takut macet di jalan, jagain mutia ya riko” . “siap bos” sahut riko dengan semangat.
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.45 namun mutia belum turun juga ke bawah. Mengingat jarak rumah dan sekolah mereka yang berjauhan, riko langsung masuk ke kamar mutia.
“mutia kamu belum bangun juga? Ayo bangun.. jangan bolos lagi” kata riko sambil membuka selimut yang dipakai mutia. Mutia masih saja tidak mau bangun dari posisi tidurnya, padahal dia sudah memakai seragam sekolah. “aku ga mau sekolah. aku masih takut sama dandi” ujarnya dari balik bantal. “Takut kenapa sih? Ada aku di sekolah. Kita sekelas juga dan aku ga bakal jauh dari kamu. Jadi kamu harus sekolah sekarang juga. Ngerti?” kata riko dengan nada yang lebih tinggi supaya mutia mau sekolah. Mutia bangkit dari posisinya, bukan untuk bergegas ke sekolah tapi dia malah mengusir riko. “gak! Keluar dari kamar aku sekarang! Aku ga mau dipaksa sekolah. Kamu ga usah sok ngejaga orang lain kalau ujung-ujungnya bakal jadi petaka. Kamu masih inget kejadian 3 tahun lalu kan? Yang menimpa ibu aku?” kata mutia . “dan satu lagi, inget kamu itu cuma saudara tiri aku, bukan ibu atau ayah kandung aku!” tambah mutia sambil menutup pintu dengan kencang. Sedangkan yang di usir hanya terdiam di depan pintu, merutuki dirinya sendiri. Ia tau jelas mengapa sikap mutia seperti itu. Semua itu karena kesalahannya yang telah meninggalkan ibu kandungnya mutia yang cacat. Kala itu pagi hari sangat cerah, Riko dan Ibu Mutia terlihat bahagia karena ingin menemui orang yang mereka sayangi. Riko mendorong kursi roda ibu tirinya itu menuju sekolahnya yang tak jauh dari rumah mereka. Mereka hampir sampai dan tinggal menyebrangi jalan, tiba-tiba Riko berhenti dan berpaling kebelakang untuk mengambil hadiah ulang tahun mutia, rupanya Riko baru sadar bahwa kado untuk Mutia jatuh di jalan. Dengan cepat Riko bergegas mengambilnya. Hanya selang beberapa detik, dari arah kanan terlihat truk yang oleng sedang melaju kencang sehingga terjadilah kecelakaan yang menewaskan satu-satunya orang yang paling berharga bagi mutia.
Tes.. tes..tes..  air mata riko pun mulai menetes.
“semua itu salah aku mutia, tapi kalau bukan aku yang jaga kamu siapa lagi yang mau jaga kamu? Sekeras apapun kamu larang aku, aku akan tetap jaga kamu mutia. aku akan buktiin itu”

****
3 minggu berlalu kelakuan riko di sekolah lebih banyak diam dan menyendiri. Teman-temannya pun merasa terheran mengapa ia menjadi dingin seperti ini. Bahkan tio, sahabatnya riko saja tak di gubris ketika menanyakan dia sedang kenapa. Bagi teman-teman riko ini kejadian yang langka.
“eh riko.. gue mau ngomong sama lo” panggil dandi dari meja makan kantin yang tak jauh dari riko sekarang. Tetapi yang di panggil hanya diam dan menonton pikirannya yang berada di mangkuk mie kesukaannya dan mutia.
“woy riko, dandi mau ngomong sama lo” tio menepuk bahu riko. “eh apaan yo? Dandi ngompol sama gue?” kata riko tak nyambung. “dandi mau ngomong sama lo woy” sekali lagi tio menegaskan tepat di telinga riko. “oh ngomong sama gue. Hehe”
Riko menghampiri dandi. “lo mau ngomong apa? Ga bawa pisau lagi kan?”
“tenang aja gue ga bawa. Hmm.. gue mau minta maaf sama lo dan mutia atas kelakuan gue beberapa minggu yang lalu. Sebagai permintaan maaf gue, gue ngundang lo di acara ulang tahun gue yang ke 17 tahun. Cuma beberapa orang yang gue undang. Nih undangannya” kata dandi sambil memberi undangan. Riko mengambilnya dari tangan dandi dan meninggalkannya begitu saja tanpa mengeluarkan kata sedikitpun.
****
Saat makan malam, riko ingin sekali berbincang dengan mutia seperti biasanya. Ayahnya sudah mengetahui permasalahan mereka berdua, namun menurut ayahnya mereka cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah. Akhirnya riko berani memulai pembicaraan walaupun mutia sedang asik melahap makan malamnya.
“mutia aku mau ngomong sama kamu” kata riko sambil menaruh sendok makannya. Ia berhenti makan.
“aphaa mmm?” jawabnya sambil mengunyah makanannya. “hey cantika mutia, habisin dulu makanan yang di mulut baru kamu ngomong. Ngerti?” bentak ayahnya dengan logat yang lembut. “maaf yah” kata mutia sambil berhenti makan.
“dandi undang kita berdua buat dateng ke acara ulang tahunnya. Dia bilang itu sebagai permintaan maafnya. Kalau kamu dateng aku juga dateng. Kamu mau dateng gak?”
“kapan?” Tanya mutia. “di undangannya sih tercantum acaranya besok malem, di rumahnya dandi sendiri”. “yaudah aku dateng besok. Lagian aku udah temenan sama dia udah lama juga” kata mutia dengan ekspresi yang sepertinya terpaksa.
“anak ayah ternyata pemaaf juga yaa.. berarti udah maafin riko juga dong pasti. Ya kan?” Tanya ayah sambil mengelus rambut mutia yang panjang.
Mutia hanya tersenyum tipis kepada ayahnya.
****
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Riko sudah siap ke acara ualng tahun dandi. Ia mengenakan kemeja biru dengan jeans hitamnya. Tinggal menunggu mutia yang masih berada di kamarnya.
“mutia cep…” teriakan riko terhenti ketika melihat mutia yang menghampirinya dengan mengenakan pakaian yang serasi dengannya, yaitu dress berwarna biru dan sepatu tinggi berwarna hitam. Ditambah lagi tatanan rambut dan wajahnya yang terlihat lebih cantik dari biasanya. Serasilah mereka berdua sebagai pasangan sejoli, bukan sebagai kakak beradik.
“ehhmm riko, ayoo aku udah siap berangkat” tegur mutia. “oh iya oke ayo berangkat”
Mereka berdua berangkat bersama kerumah dandi yang kebetulan tidak terlalu jauh. Hanya 20 menit mereka sudah sampai di rumah dandi yang terlihat dipenuhi undangannya. riko dan mutia langsung masuk kedalam, dandi menyambut mereka dengan ramah sekali.
“hai bro.. ganteng banget lo hari ini.. mutia juga tambah cantik aja” sapa dandi yang memakai jas anak muda.
Kali ini mutia angkat bicara duluan “hmm.. dandi, maaf ya gue……” . “gue yang salah mutia. Gue yang kadang-kadang suka kumat gitu ya lo tau kan mut gue kaya gimana?” kata dandi memotong ucapan mutia. Sedangkan mutia hanya membalasnya dengan senyuman.
“kumat gimana?” Tanya riko curiga. “ya kadang suka gitu ajah. hmm gue boleh ajak mutia jalan-jalan sebentar ngelilingin istana gue ini ngga rik? Bentar aja ko” minta dandi.
Riko melirik ke arah mutia dan ia mengangguk sebagai tanda bahwa dia tidak apa-apa.
“ga lama ya dan, nanti kalau kelamaan gue bisa digodain tante-tante lo” jawab riko dengan sedikit ragu.
          Dandi dan mutia berjalan-jalan mengelilingi rumah dandi yang besar seperti istana tapi sayangnya hanya sedikit yang menempati. Sedangkan riko hanya duduk di bangku paling pojok dekat pintu balkon. Semakin lama dandi dan mutia semakin tak kasat mata oleh riko. Selalu ada rasa khawatir setiap kali melihat mutia sedang bersama dandi.
“hmm dan, rumah lo besar tapi ko sepi banget ya kalau lebih masuk ke dalemnya?” ucap mutia memecahkan suasana yang sepi.
“iya bokap sama nyokap gue diluar negeri. Mereka nitipin gue ke tante-tante gue, tapi ga ada yang mau urusin gue. Ya akhirnya gue kaya gini deh” ucap Dandi.
“ohh gitu. Terus ini senjatanya punya siapa? Ko banyak banget?” mutia menunjuk lemari pajang besar di sebelah kanannya. “oh ini semua punya gue, oh iya lupa gue! sebentar gue mau ambil senjata 17 gue” dandi berlari mengambil senjata di sudut ruangan. Ia terlihat gembira sekali.
“nih liat, ini senjata kebanggaan gue mut” kata dandi. “kenapa itu senjata kebanggaan lo dan?”
Dandi membelakangi mutia “karena senjata ini akan gue pake pada saat usia gue 17 tahun” ucap dandi. “ma.. mak..sud lo?” Tanya mutia terbata-bata sambil berusaha menjauhi dandi. Mutia mulai merasa ada yang tidak beres.
“iya gue akan pake senjata ini untuk bunuh lo!” dandi berbalik badan dan mengarahkan senjatanya kearah mutia. “lo ga serius kan dan? Lo.. lo lagi bercanda kan?” mutia mulai ketakutan dan berusaha keluar dari ruangan itu. Dandi ternyata belum berubah. Mutia sampai tidak mengenali lagi siapa itu Dandi, sifatnya sangatlah berbeda dengan Dandi yang ia kenal dulu.
“ini semua karena salah lo yang nolak perasaan gue, dan lo yang ngebuat gue dikenal sebagai psikopat. Gue sakit hati sama lo. Lo tau gue cuma hidup sendiri, dan lo ninggalin gue terus hidup bahagia di depan gue! Lebih baik lo ninggalin gue selamanya. jadi gue ga akan ngeliat lo bahagia di depan gue. Gue mau lo mati cantika mutia” dandi menyeringai.
“gue ga mau mati konyol dandi, gue mohon jangan.. gue bakal lakuin apa aja asal lo jangan bunuh gue. Gue minta maaf kalau ternyata gue ninggalin lo. Tapi gue ga bermaksud kaya gitu. Buktinya kita masih bisa ngobrol barengkan? Kita juga satu sekolah, mana mungkin gue ninggalin lo” ucap mutia spontan. Namun dandi tetap pada pendiriannya. “lo telat bilang kaya gitu. Lo harus mati sekarang juga dan kematian lo akan dikenal sebagai kecelakaan. Bukan sebagai pembunuhan. Hahaha” Mutia hanya bisa menangis pasrah di depan sahabatnya yang berubah jadi malaikat pencabut nyawanya. Mutia tidak percaya dengan apa yang terjadi. Andaikan dia mau mendengarkan kata-kata riko, mungkin semua ini tidak akan dialaminya lagi.
“ada kata-kata terakhir Cantika Mutia? 1….2….3….” Mutia hanya menutup telinganya dan pasrah.
“DOORRRR” suara senjata itu terdengar keras sampai orang yang mendengarnyapun ketakutan. pelurunya persis mengenai dadanya. Membuat darah segar mulai bercucuran di lantai, menandakan ada yang telah tertancap benda tajam.
Mutia membuka matanya dan terkejut melihat darah bercucuran di hadapannya bukanlah darahnya. “riko…..” ia berlari dan memeluk riko.
“udah gue bilang lo jangan ganggu mutia lagi atau senjata lo sendiri yang akan bunuh lo” riko melempar pistol kearah dandi yang sudah bersimpahan darah.
“riko.. maafin ak..” “shutttt.. udah kewajiban aku buat ngejaga kamu Cantika Mutia” mereka berdua saling tersenyum dan saling memeluk dengan erat.

END


CERPEN : Tebak-tebakan Cinta


Oleh : Nuraisyah
Ketika aku hendak berangkat kesekolah, seringkali aku melihat seorang gadis nan manis berjalan melewati depan rumahku. Tidak ada yang aneh dengannya, ia berjalan dengan pandangan matanya selalu mengarah ke arahku. Bukan hanya melihat ke arahku saja, dia juga menunjukan senyuman manisnya. kejadian ini terjadi sejak beberapa hari yang lalu. aku bertanya-tanya “siapa sebenarnya gadis itu? Seperti tidak asing lagi bagiku”.
Ketika disekolah, aku melihatnya di ujung lorong sekolah. Tetapi, ada yang aneh kali ini. Gadis itu tersenyum kepadaku dalam jarak yang jauh, namun dalam senyumnya itu seolah-olah dia ingin aku untuk mendekatinya. Aku mencoba cari tahu siapa dia yang sebenarnya, dan akhirnya aku menemukan informasi tentangnya. Ternyata, dia adalah murid baru pindahan dari Jakarta. Dan kelasnya berada tepat disebelah kelasku. Sejenak aku berfikir mengapa aku tidak pernah bertemu dengannya kalau memang kelasnya berada di sebelah kelasku? Tapi aku fikir lagi mungkin dia jarang keluar kelasnya. Ah biarkanlah aku sudah tidak penasaran lagi setelah tau tentangnya. Namun, ada kejadian aneh lagi yang membuat aku penasaran dengan murid baru itu. saat aku berjalan pulang ke rumah, aku merasa ada yang mengikutiku dari belakang. Aku sengaja tidak menengok kebelakang, aku hanya menyuruh temanku yang berada tepat disebelahku untuk menengok kebelakang. Aku mempunyai firasat kalau yang mengikutiku adalah murid baru itu. Aku lupa untuk menanyakan siapa nama murid baru itu ke teman kelasnya yang tadi pagi aku Tanya. ternyata benar saja yang mengikutiku adalah murid baru itu dan temanku bilang gadis itu melihatku penuh dengan tatapan. Kejadian itu membuat aku selalu memikirkannya sebelum aku hendak tidur. “apakah dia jatuh hati kepadaku? Ah tapi dia baru melihatku, mana mungkin juga dia jatuh hati dengan lelaki sepertiku?” kalimat itu yang selalu mengalir begitu saja saat aku memikirkannya.
Beberapa hari kemudian, aku menunggu dia lewat depan rumahku. Sebelum ia lewat, aku sudah berada tepat di depan pagar rumahku. Tak lama aku menunggunya ia sudah terlihat dari kejauahan dengan langkahnya yang kecil itu, aku sudah berancang-ancang untuk menanyakan semua yang aku ingin tanyakan padanya. Aku memandanginya dari kejauhan yang semakin mendekat, gadis yang memakai rok abu-abu dengan tas yang di selempangkan dibahunya, membuatnya semakin terlihat anggun. Gadis itu sekarang tepat 1 meter di depanku, lalu aku memberhentikan langkahnya. Gadis itu kaget setelah melihat aku tepat di depannya. Aku rasa ia terbingung dengan tindakan aku ini. Ia berusaha untukmelanjutkan jalannya lagi, namun aku tetap menghalanginya.
“eh eh sebentar aku mau nanya, wajah kamu seperti tidak asing bagi aku, dan kalau kita bertemu kamu selalu senyum kepada ku. Tapi ketika aku mau berbicara kamu langsung membuang mukamu. Sebenarnya kamu siapa?” tanyaku kepada gadis yang berkulit putih dan juga memakai kerudung putih itu. Dia menatapku dan sepertinya dia ingin menjawab pertanyaan dariku. “namaku gita, aku pindahan dari Jakarta, dulu aku pernah tingggal didaerah sini, ketika umurku 7 tahun aku pindah ke Jakarta dan aku ini sebenarnya..…” sebelum ia menyelesaikannya aku sudah memotong kalimatnya, karena aku melihat cucuran darah di hidungnya. “eh hidung kamu berdarah, sini aku bantu”. “hmm ga usah makasih ya, aku mau lewat, permisi” jawab gadis itu yang menolak jiwa penolongku.
Aku hanya terbingung mengapa dia tidak mau dibantu. Aku fikir mungkin karena aku dan dia bukan mukhrim. yaa mungkin saja. Tiba-tiba aku teringat yang ia ucapkan beberapa detik yang lalu. Identitasnya sama seperti teman kecilku yaitu Gita maharani. Teman terdekatku yang aku nantikan. Saat aku menginjak SMP dulu, aku diberitahukan oleh orang tuaku bahwa aku akan dijodohkan kelak dewasa nanti. Aku menyetujuinya karena memang hanya Gita teman yang paling bisa mengerti aku sejak kecil. Namun sejak usia 7 tahun ia pergi begitu saja tanpa pamit kepadaku. Maka dari itu aku berfikir kalau gadis itu adalah Gita maharani. Aku berniat untuk menanyakannya pulang sekolah nanti.
Bel pulang berbunyi dan aku menunggu gadis itu di depan kelasnya. Satu persatu murid dikelasnya keluar, namun aku tidak melihatnya sampai kelas itu kosong.“eh kamu lagi nungguin siapa?” tegur salah seorang murid yang ingin mengunci pintu kelasnya. “aku lagi nungguin yang namanya gita. Tapi ko dari tadi ngga kelihatan keluar ya? Apa udah pulang duluan ya?”. “ohh gita, tadi waktu jam pelajaran ke 2 dia jatuh pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Yang aku tau dia punya penyakit parah sejak dia masuk SMP”
Aku hanya terdiam dan sekarang aku tau jawabannya mengapa dia tadi pagi hidungnya berdarah. Setelah mengetahuinya aku berjalan keluar sekolah. Dan aku kaget sekali saat melihat seseorang yang berada di depan pagar sekolah. Aku mempunyai firasat buruk kali ini. “bu, lagi ngapain disini? Kenapa engga pernah kabarin ke rumah aku lagi bu?” sahutku kepada ibu-ibu yang ternyata adalah ibunya Gita maharani teman kecilku. “Naufal, ibu ada perlu sama kamu. Apa kamu sudah bertemu dengan gita? ibu kesini ingin bilang ke kamu, sebenarnya…” sepotong kalimat yang belum selesai sudah di hentikan oleh tangisannya. Firasatku semakin buruk.
“sebenarnya apa bu? Katakana saja bu yang sebenarnya.  Ya aku sudah ketemu gita sejak beberapa hari yang lalu, namun aku baru mengenalinya tadi pagi, karna wajahnya sangat berbeda ” ujarku kepada ibunya Gita.
“iyaa fal, sebenarnya Gita terkena leukimia sejak ia masuk SMP, dia pindah kesekolah ini karna dia ingin bersama kamu untuk terakhir kalinya. Jika kamu sudah bertemu dengannya, mungkin itu adalah terakhir kalinya kamu melihat gita fal.. maafin ibu” ibunya gita menjelaskan dengan tangisan kepadaku. 
Aku hanya terdiam, nafasku terasa sesak dan tetes demi tetes air mata mulai keluar dari mataku.
Aku menerima benda itu dan aku masih tidak percaya dengan semua ini. Sahabat yang selalu aku nantikan akhirnya datang, tetapi datang untuk pergi. Aku membuka kotak itu yang berisikan buku kecil tentang tebak-tebakan buatan tangannya sendiri. Dan surat itu, sangat menyayat hatiku.
“hai Naufal.. maaf aku langsung pergi gitu aja kalau bertemu kamu. Aku hanya ingin bermain tebak-tebakan sama kamu untuk terakhir kalinya. Naufal jika kamu rindu aku, kamu cukup tebak aku berada dimana. aku pasti berada ditempat yang kamu tebak J” Isi surat yang membuat air mataku tidak berhenti-henti.
Setelah hari-hari aku lewati tanpanya, aku menjalani hidup yang baru. Aku menyelesaikan sekolahku dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Jakarta. Namun, mengingat kata Jakarta, aku selalu mengingat akan dirinya. Setiap kali aku mengingatnya, aku selalu merasa ia berada di sampingku. Mungkin ini adalah makna dari surat yang ia tulis.

“Cinta sejati akan selalu ada di setiap tempat yang kita pikirkan dan kita inginkan”


END

CERPEN : PAPAN TULIS

PAPAN TULIS
Oleh : Nuraisyah


(image from Google Images)


S
ulit bagiku untuk menghapus tulisan yang ada di papan tulis kecil ini. Sejak tadi aku hanya menatapnya dan sesekali tertawa sendiri melihat isinya. Aku ingin menghapusnya, namun rasanya seperti tak menghargai orang yang telah membuatnya menjadi sebuah karya. Walaupun menurutku benda ini lebih mirip dengan coret-coretan anak SD yang sedang belajar menulis. meskipun begitu, aku tetap menyukainya karena di dalamnya dia menulis semua hal yang berhubungan dengan diriku. Satu kalimat yang membuatku ragu untuk menghapus semua tulisan ini.
“Aku mulai menyukai menulis di papan tulis, tetapi tulisanku hanya boleh dilihat oleh sulis”

Sudah sejam lebih aku menempelkan pipiku di buku tulis ini. Entah apa yang membuatku begini. Yang jelas aku benar-benar tidak tahu harus menulis apa. Mungkin efek dari kamarku yang gelap dan panas ini jadi aku tidak konsentrasi. Aku membuka kalender di ponselku, ternyata hari ini sudah tanggal 7 Februari. Oh tidak, kenapa sebulan ini aku menyepelekannya. Seminggu lagi berarti aku harus sudah punya cerpen untuk Sulis. Ya sulis adalah penyebab yang membuat aku bingung harus menulis apa sekarang ini, dia menantangku untuk membuat cerpen yang sangat menarik baginya. Dia sudah berjanji kalau aku berhasil membuat cerpen yang menarik, dia akan memberikan sesuatu yang aku inginkan. Dan aku menginginkan dia kembali menjadi pacarku. Menyebut namanya, aku jadi mengingat pertama kali aku bertemu dengannya.
Dua tahun yang lalu, saat aku ingin meninggalkan sekolah, mataku mendapati seorang Sulis sedang menulis di papan tulis. Setiap pulang sekolah aku melihatnya melakukan hal yang sama di dalam kelasnya. Aku sangat penasaran dengan apa yang dia tulis, tak tanggung-tanggung dia menulis dua papan tulis penuh.  saat itu yang aku pikirkan tentangnya adalah dia gadis yang aneh. Pasalnya setiap kali dia selesai menulis, dia akan menghapusnya. Kenapa dia tidak menulisnya di buku harian saja seperti kebanyakan gadis lainnya. Namun, setelah berbulan-bulan aku mencoba mendekatkan diri dengan Sulis atas dasar rasa penasaranku, akhirnya dia menerimaku. awalnya dia selalu bilang “Alvan, tolong berhenti deketin aku. Ga ada gunanya karena aku ga akan terbuka sama kamu. Ternyata dia adalah gadis yang asik walaupun tertutup, dan  dia juga sangat pintar serta jago nulis. Setahun kemudian, aku menjalin kasih dengannya. Semuanya terlihat begitu indah sebelum pada akhirnya Sulis meminta untuk memutuskan hubungan. “kita udah pacaran 8 bulan, tapi ga ada gunanya juga kan Van? Kita harus biasa-biasa aja mulai sekarang” kata itu terdengar ditelingaku saat aku sedang menulis sesuatu tentangnya. Saat itu aku hanya terdiam bisu, sampai pada akhirnya Sulis pergi meninggalkanku sendirian diruangan kelasnya yang sepi, dan meninggalkan pedih, hingga terlihat buram semuanya.
“Van bangun! Pindah ke kasur sana. Nanti bukunya kena air liur! Kamu kan jorok kalo tidur” Ya ampun ternyata aku sampai tertidur saat memikirkannya. Untung saja kakakku membangunkan aku, kalau tidak, buku milik Sulis ini akan basah tak karuan. Aku harus menyelesaikan cerpen ini sebelum minggu depan.

Hari ini tepat tanggal 14 Februari, lebih tepatnya hari Valentine. Aku akan mengutarakan kembali rasa aku kepada Sulis. Aku yakin Sulis akan menerima aku kembali karena aku sudah berhasil membuat cerpen yang ia inginkan. Aku sudah duduk di bangku taman dekat rumahnya. Kulihat dari kejauhan sepertinya itu Sulis. Ya benar sekali tebakanku. Itu Sulis. Dia membawa sebuah kotak sedang. “Hai” sapaku. “ya. Maaf telat” ia duduk di sampingku. “hmm lis, nih cerpen yang aku buat dari tantangan kamu” “judulnya Papan Tulis? Isinya tentang apa?” Tanyanya. “iya, itu tentang aku sama kamu” aku menjawabnya dengan semangat. Oke ini waktunya aku mengutarakan perasaan aku. Aku mengambil nafas sementara sulis sedang membaca cerpenku.  “Sulis, mau ga jadi pacar aku lagi?”   Sulis hanya terdiam beberapa detik, yang bagiku itu adalah waktu paling lama. “Maaf Alvan, aku ga bisa pacaran. Kamu tau kan jadi penulis terkenal itu lebih penting bagi aku ketimbang dengan pacaran? Maaf aku ga bisa lama-lama. Ini hadiah dari tantangan kamu, ini yang kamu inginin. Bye” Sulis pergi meninggalkanku sendirian ditaman yang ramai dengan orang asing, kotak hadiah dan meninggalkan pedih. Lagi.
Aku membuka hadiahnya, kulihat ternyata papan tulis putih kecil milikku. Pasti dia menyukainya sampai ia menyimpannya. Namun tetap saja aku tak bisa memilikinya. Seolah papan tulis ini menjadi saksi yang menandakan akhir dari sebuah ceritaku.

Like us on Facebook