CERPEN : JAGA AKU

oleh : Nuraisyah


“Brakkkk…” Suara gebrakan meja terdengar dari arah kelas IPS 3. Murid-murid yang sedang beristirahat di koridor depan kelas IPS 3 langsung terkejut dan berusaha melihat ke sumber suara melalui celah-celah jendela. Berusaha mengetahui siapa yang ada di dalam kelas. Pasalnya kelas IPS 3 beberapa menit yang lalu masih kosong karena semua murid IPS 3 sedang praktek shalat di masjid.
“eh eh ada apa ini ko rame banget?” Tanya Riko, ketua kelas ips 3.
“itu rik, di dalem ada Mutia sama Dandi. Tadi dandi ngebentak mutia kenceng banget. Dia juga bawa pisau” setelah mendengar apa yang dikatakan salah satu temannya, Riko langsung berusaha masuk kedalam kelas, namun usahanya sia-sia karena pintu kelas dikunci dari dalam. Riko hanya mengkhawatirkan gadis yang sekarang ada di dalam. Mungkin dia ketakutan.
“Kenapa kamu lebih memilih dia? Kenapa bukan aku? Karena dia lebih terkenal? Aku juga bisa terkenal. Kenapa kamu selalu sama dia, buat aku cemburu. Rasanya aku mau bunuh kamu tau gak?” terdengar lagi suara dandi dari dalam kelas. membuat riko yang dari tadi berusaha mendobrak pintu semakin ingin cepat-cepat menonjok mulutnya dandi. Sedangkan gadis putih dan tinggi yang berada di dalam kelas hanya bisa diam tak bersuara dan menangis ketakutan. Mutia tidak pernah takut apapun, tapi baru kali ini dia benar-benar ketakutan. Mungkin setelah ini dia menyesal telah berteman dengan dandi.
Setelah beberapa menit riko mencoba mendobrak pintu, akhirnya pintu tersebut bisa dikalahkan. Riko langsung menghampiri mereka berdua. Untunglah mutia tidak kenapa-kenapa. Dia langsung berlari kebelakang riko. “sekali lagi lo ganggu mutia, gue yang akan tusuk lo pake pisau yang lo bawa” kata Riko sambil mengambil pisau yang dipegang dandi. dan dandi pun langsung di bawa ke ruang guru oleh beberapa teman riko. Riko hanya berharap psikopat itu tidak akan mengganggu mutia lagi.
Sebenarnya, Mutia dan Dandi bersahabat sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga akhirnya mereka berpisah saat Ibu Mutia menikah lagi dan mereka dipertemukan kembali saat masuk SMA. Namun posisi Dandi tergantikan oleh Riko yang sudah jelas adalah kakak tiri Mutia.

****
3 hari setelah kejadian itu, Mutia terlihat lebih murung dan tak bersemangat lagi. Seperti halnya hari ini, biasanya mutia sangat senang sekolah di hari senin karena senin merupakan awal belajar baginya tapi hari ini dia tak bersemangat sama sekali. Riko, dan Herniko alias ayahnya riko sekaligus ayahnya mutia sudah mencoba membangkitkan semangat mutia, namun tak semudah yang dibayangkan.
“riko, mutia udah bangun belum? Ini hari senin loh nanti kalau kalian terlambat lagi ayah ga tanggung jawab ya” Tanya Herniko dari lantai atas. “udah yah. Mutia lagi mandi” kata riko sambil menyiapkan sarapan di meja makan. “ayah berangkat duluan ya takut macet di jalan, jagain mutia ya riko” . “siap bos” sahut riko dengan semangat.
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.45 namun mutia belum turun juga ke bawah. Mengingat jarak rumah dan sekolah mereka yang berjauhan, riko langsung masuk ke kamar mutia.
“mutia kamu belum bangun juga? Ayo bangun.. jangan bolos lagi” kata riko sambil membuka selimut yang dipakai mutia. Mutia masih saja tidak mau bangun dari posisi tidurnya, padahal dia sudah memakai seragam sekolah. “aku ga mau sekolah. aku masih takut sama dandi” ujarnya dari balik bantal. “Takut kenapa sih? Ada aku di sekolah. Kita sekelas juga dan aku ga bakal jauh dari kamu. Jadi kamu harus sekolah sekarang juga. Ngerti?” kata riko dengan nada yang lebih tinggi supaya mutia mau sekolah. Mutia bangkit dari posisinya, bukan untuk bergegas ke sekolah tapi dia malah mengusir riko. “gak! Keluar dari kamar aku sekarang! Aku ga mau dipaksa sekolah. Kamu ga usah sok ngejaga orang lain kalau ujung-ujungnya bakal jadi petaka. Kamu masih inget kejadian 3 tahun lalu kan? Yang menimpa ibu aku?” kata mutia . “dan satu lagi, inget kamu itu cuma saudara tiri aku, bukan ibu atau ayah kandung aku!” tambah mutia sambil menutup pintu dengan kencang. Sedangkan yang di usir hanya terdiam di depan pintu, merutuki dirinya sendiri. Ia tau jelas mengapa sikap mutia seperti itu. Semua itu karena kesalahannya yang telah meninggalkan ibu kandungnya mutia yang cacat. Kala itu pagi hari sangat cerah, Riko dan Ibu Mutia terlihat bahagia karena ingin menemui orang yang mereka sayangi. Riko mendorong kursi roda ibu tirinya itu menuju sekolahnya yang tak jauh dari rumah mereka. Mereka hampir sampai dan tinggal menyebrangi jalan, tiba-tiba Riko berhenti dan berpaling kebelakang untuk mengambil hadiah ulang tahun mutia, rupanya Riko baru sadar bahwa kado untuk Mutia jatuh di jalan. Dengan cepat Riko bergegas mengambilnya. Hanya selang beberapa detik, dari arah kanan terlihat truk yang oleng sedang melaju kencang sehingga terjadilah kecelakaan yang menewaskan satu-satunya orang yang paling berharga bagi mutia.
Tes.. tes..tes..  air mata riko pun mulai menetes.
“semua itu salah aku mutia, tapi kalau bukan aku yang jaga kamu siapa lagi yang mau jaga kamu? Sekeras apapun kamu larang aku, aku akan tetap jaga kamu mutia. aku akan buktiin itu”

****
3 minggu berlalu kelakuan riko di sekolah lebih banyak diam dan menyendiri. Teman-temannya pun merasa terheran mengapa ia menjadi dingin seperti ini. Bahkan tio, sahabatnya riko saja tak di gubris ketika menanyakan dia sedang kenapa. Bagi teman-teman riko ini kejadian yang langka.
“eh riko.. gue mau ngomong sama lo” panggil dandi dari meja makan kantin yang tak jauh dari riko sekarang. Tetapi yang di panggil hanya diam dan menonton pikirannya yang berada di mangkuk mie kesukaannya dan mutia.
“woy riko, dandi mau ngomong sama lo” tio menepuk bahu riko. “eh apaan yo? Dandi ngompol sama gue?” kata riko tak nyambung. “dandi mau ngomong sama lo woy” sekali lagi tio menegaskan tepat di telinga riko. “oh ngomong sama gue. Hehe”
Riko menghampiri dandi. “lo mau ngomong apa? Ga bawa pisau lagi kan?”
“tenang aja gue ga bawa. Hmm.. gue mau minta maaf sama lo dan mutia atas kelakuan gue beberapa minggu yang lalu. Sebagai permintaan maaf gue, gue ngundang lo di acara ulang tahun gue yang ke 17 tahun. Cuma beberapa orang yang gue undang. Nih undangannya” kata dandi sambil memberi undangan. Riko mengambilnya dari tangan dandi dan meninggalkannya begitu saja tanpa mengeluarkan kata sedikitpun.
****
Saat makan malam, riko ingin sekali berbincang dengan mutia seperti biasanya. Ayahnya sudah mengetahui permasalahan mereka berdua, namun menurut ayahnya mereka cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah. Akhirnya riko berani memulai pembicaraan walaupun mutia sedang asik melahap makan malamnya.
“mutia aku mau ngomong sama kamu” kata riko sambil menaruh sendok makannya. Ia berhenti makan.
“aphaa mmm?” jawabnya sambil mengunyah makanannya. “hey cantika mutia, habisin dulu makanan yang di mulut baru kamu ngomong. Ngerti?” bentak ayahnya dengan logat yang lembut. “maaf yah” kata mutia sambil berhenti makan.
“dandi undang kita berdua buat dateng ke acara ulang tahunnya. Dia bilang itu sebagai permintaan maafnya. Kalau kamu dateng aku juga dateng. Kamu mau dateng gak?”
“kapan?” Tanya mutia. “di undangannya sih tercantum acaranya besok malem, di rumahnya dandi sendiri”. “yaudah aku dateng besok. Lagian aku udah temenan sama dia udah lama juga” kata mutia dengan ekspresi yang sepertinya terpaksa.
“anak ayah ternyata pemaaf juga yaa.. berarti udah maafin riko juga dong pasti. Ya kan?” Tanya ayah sambil mengelus rambut mutia yang panjang.
Mutia hanya tersenyum tipis kepada ayahnya.
****
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Riko sudah siap ke acara ualng tahun dandi. Ia mengenakan kemeja biru dengan jeans hitamnya. Tinggal menunggu mutia yang masih berada di kamarnya.
“mutia cep…” teriakan riko terhenti ketika melihat mutia yang menghampirinya dengan mengenakan pakaian yang serasi dengannya, yaitu dress berwarna biru dan sepatu tinggi berwarna hitam. Ditambah lagi tatanan rambut dan wajahnya yang terlihat lebih cantik dari biasanya. Serasilah mereka berdua sebagai pasangan sejoli, bukan sebagai kakak beradik.
“ehhmm riko, ayoo aku udah siap berangkat” tegur mutia. “oh iya oke ayo berangkat”
Mereka berdua berangkat bersama kerumah dandi yang kebetulan tidak terlalu jauh. Hanya 20 menit mereka sudah sampai di rumah dandi yang terlihat dipenuhi undangannya. riko dan mutia langsung masuk kedalam, dandi menyambut mereka dengan ramah sekali.
“hai bro.. ganteng banget lo hari ini.. mutia juga tambah cantik aja” sapa dandi yang memakai jas anak muda.
Kali ini mutia angkat bicara duluan “hmm.. dandi, maaf ya gue……” . “gue yang salah mutia. Gue yang kadang-kadang suka kumat gitu ya lo tau kan mut gue kaya gimana?” kata dandi memotong ucapan mutia. Sedangkan mutia hanya membalasnya dengan senyuman.
“kumat gimana?” Tanya riko curiga. “ya kadang suka gitu ajah. hmm gue boleh ajak mutia jalan-jalan sebentar ngelilingin istana gue ini ngga rik? Bentar aja ko” minta dandi.
Riko melirik ke arah mutia dan ia mengangguk sebagai tanda bahwa dia tidak apa-apa.
“ga lama ya dan, nanti kalau kelamaan gue bisa digodain tante-tante lo” jawab riko dengan sedikit ragu.
          Dandi dan mutia berjalan-jalan mengelilingi rumah dandi yang besar seperti istana tapi sayangnya hanya sedikit yang menempati. Sedangkan riko hanya duduk di bangku paling pojok dekat pintu balkon. Semakin lama dandi dan mutia semakin tak kasat mata oleh riko. Selalu ada rasa khawatir setiap kali melihat mutia sedang bersama dandi.
“hmm dan, rumah lo besar tapi ko sepi banget ya kalau lebih masuk ke dalemnya?” ucap mutia memecahkan suasana yang sepi.
“iya bokap sama nyokap gue diluar negeri. Mereka nitipin gue ke tante-tante gue, tapi ga ada yang mau urusin gue. Ya akhirnya gue kaya gini deh” ucap Dandi.
“ohh gitu. Terus ini senjatanya punya siapa? Ko banyak banget?” mutia menunjuk lemari pajang besar di sebelah kanannya. “oh ini semua punya gue, oh iya lupa gue! sebentar gue mau ambil senjata 17 gue” dandi berlari mengambil senjata di sudut ruangan. Ia terlihat gembira sekali.
“nih liat, ini senjata kebanggaan gue mut” kata dandi. “kenapa itu senjata kebanggaan lo dan?”
Dandi membelakangi mutia “karena senjata ini akan gue pake pada saat usia gue 17 tahun” ucap dandi. “ma.. mak..sud lo?” Tanya mutia terbata-bata sambil berusaha menjauhi dandi. Mutia mulai merasa ada yang tidak beres.
“iya gue akan pake senjata ini untuk bunuh lo!” dandi berbalik badan dan mengarahkan senjatanya kearah mutia. “lo ga serius kan dan? Lo.. lo lagi bercanda kan?” mutia mulai ketakutan dan berusaha keluar dari ruangan itu. Dandi ternyata belum berubah. Mutia sampai tidak mengenali lagi siapa itu Dandi, sifatnya sangatlah berbeda dengan Dandi yang ia kenal dulu.
“ini semua karena salah lo yang nolak perasaan gue, dan lo yang ngebuat gue dikenal sebagai psikopat. Gue sakit hati sama lo. Lo tau gue cuma hidup sendiri, dan lo ninggalin gue terus hidup bahagia di depan gue! Lebih baik lo ninggalin gue selamanya. jadi gue ga akan ngeliat lo bahagia di depan gue. Gue mau lo mati cantika mutia” dandi menyeringai.
“gue ga mau mati konyol dandi, gue mohon jangan.. gue bakal lakuin apa aja asal lo jangan bunuh gue. Gue minta maaf kalau ternyata gue ninggalin lo. Tapi gue ga bermaksud kaya gitu. Buktinya kita masih bisa ngobrol barengkan? Kita juga satu sekolah, mana mungkin gue ninggalin lo” ucap mutia spontan. Namun dandi tetap pada pendiriannya. “lo telat bilang kaya gitu. Lo harus mati sekarang juga dan kematian lo akan dikenal sebagai kecelakaan. Bukan sebagai pembunuhan. Hahaha” Mutia hanya bisa menangis pasrah di depan sahabatnya yang berubah jadi malaikat pencabut nyawanya. Mutia tidak percaya dengan apa yang terjadi. Andaikan dia mau mendengarkan kata-kata riko, mungkin semua ini tidak akan dialaminya lagi.
“ada kata-kata terakhir Cantika Mutia? 1….2….3….” Mutia hanya menutup telinganya dan pasrah.
“DOORRRR” suara senjata itu terdengar keras sampai orang yang mendengarnyapun ketakutan. pelurunya persis mengenai dadanya. Membuat darah segar mulai bercucuran di lantai, menandakan ada yang telah tertancap benda tajam.
Mutia membuka matanya dan terkejut melihat darah bercucuran di hadapannya bukanlah darahnya. “riko…..” ia berlari dan memeluk riko.
“udah gue bilang lo jangan ganggu mutia lagi atau senjata lo sendiri yang akan bunuh lo” riko melempar pistol kearah dandi yang sudah bersimpahan darah.
“riko.. maafin ak..” “shutttt.. udah kewajiban aku buat ngejaga kamu Cantika Mutia” mereka berdua saling tersenyum dan saling memeluk dengan erat.

END


Like us on Facebook